Kembali di sini saya bertanya-tanya. Setahu saya, pernikahan dalam Islam itu harus dilakukan dalam keadaan sadar oleh semua pihak. Sedangkan dalam film ini, si Maryam kondisinya koma alias tidak sadar. Kok bisa dinikahkan oleh para pemeluk islam yang taat? Atau ada mazhab baru yang membolehkannya? Kalau ada, sangat berbahaya.. MUI harus bertindak. Sebab diilhami film ini, bisa saja nanti seorang lelaki menikahi wanita pujaannya yang sedang tidur. Begitu juga sebaliknya. Tak peduli wanita atau lelaki itu suka atau tidak suka.
Kita lanjutkan kisah aneh AAT. Di adegan pernikahan kedua si Fahri, penonton diuji imajinasinya. Atau sutradara ingin menyembunyikan fakta bahwa di Mesir para pemudanya juga doyan pacaran seperti di Indonesia. Karena ternyata si Maryam begitu menaruh hati pada Fahri sesuai buku hariannya. Dan si Fahri pun ternyata buaya. Dalam kealimannya ternyata dia mencintai Maryam. Dan keduanya sering ngobrol (atau pacaran?) di tepi sungai Nil. Jadi mana unsur dakwahnya? Film ini tak ubahnya cerita-cerita roman sinetron yang mengisi prime time di TV-TV kita. Hanya bungkusnya Al Azhar, sungai Nil, dan tulisan-tulisan Arab, serta wajah-wajah Indo-Arab.
Terlepas dari syah atau tidaknya pernikahan si Fahri dengan Maryam, ketiga makhluk berlainan jenis itu kemudian bisa hidup bahagia dalam satu rumah. Tentu saja rumahnya Aishah. Tapi sayang, sutradara malah memilih “mematikan” tokoh Maryam, istri kedua Fahri. Hanya saja kematiannya sengaja didramatisir, terjadi ketika Maryam sedang shalat dalam keadaan berbaring. Endingnya tetap saja meniru tokoh Cinderella dan pangeran yang hidup bahagia berdua selama-lamanya. Kehadiran Maryam dirasa mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Film ini memang diangkat ke layar lebar dari Novel dengan judul yang sama, Ayat-Ayat Cinta. Tapi si pembuat film tidak mau sedikit berimprovisasi, merubah sedikit jalan ceritanya supaya lebih pas disuguhkan di layar lebar, yang punya durasi kurang dari 2 jam. Novel adalah cerita yang tidak bisa habis dalam sehari bisa dibaca (kecuali yang membaca tak punya kesibukan cari duit). Dan tak akan muat bila dijejalkan dalam waktu 150 menit.
Kalau film ini tak ada istimewanya dengan sinetron-sinetron lainnya, kenapa laris? Bahkan kabarnya sampai tulisan ini diketik, sudah 2 juta tiket terjual. Tentu saja karena memang kemampuan penonton kita baru sampai segitu. Terus topiknya sedikit menyinggung poligami dan benuansa islami. Tapi menurut saya tidak islami, sebab, kalau memang mau menyuguhkan kisah yang islami, ending cerita mustinya berakhir dengan ketiganya yang hidup bahagia dalam satu rumah. Kalau perlu wanita yang telah menuduh si Fahri memperkosanya juga dinikahi. Begitu juga mantan kekasihnya di kampung yang stress berat, juga dinikahi. Jadi istrinya empat. Hidup dalam satu rumah. Hidup happily ever and after. Mungkin belum ada sutradara dan produser yang berani membikin film seperti itu. Nantilah, saya yang bikin. Tapi mau praktek dulu.
(dari Milis Pondokku…)
Wassalam
